LP3M INVESTA

Masih ampuhkan kalimat “Sell in May and Go Away” ?

Ada istilah “Sell on May and go away” dalam investasi di bursa yang artinya kira-kira jualah saham anda pada bulan Mei sampai bulan Oktober dan baru belanja kembali pada bulan November.

Menurut beberapa pihak bahwa antara bulan November – April itulah periode pertumbuhan untuk mayoritas saham yang diperdagangkan di Bursa.

Kalau saja istilah tersebut dipercaya maka periode bulan Oktober ini bagus buat persiapan untuk trading / investasi secara lebih agresif, tentu dengan harapan mendapatkan hasil lebih baik.

Entah secara kebetulan atau tidak faktanya untuk tahun 2019 ini sejak bulan Mei – awal Oktober ini terasa sulit mencari gain di Bursa, hal ini juga bisa diukur dari IHSG yang cenderung lebih rendah dalam periode tersebut.

Jadi apakah mulai bulan November nanti benar akan lebih mudah cari cuan ? Kita lihat saja.
Tetapi, saya berusaha membuat analisa sendiri dengan logika normal apa saja yang mendasari prediksi bahwa bulan November mendatang harga-harga saham akan cenderung naik.

Setidaknya dari sisi politik setelah pelantikan Presiden terpilih dan pembentukan kabinet baru kondisi akan lebih stabil. Konsentrasi kembali kepertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Semoga semangat kabinet baru nanti akan diikuti kebijakan yang lebih bisa diterima pelaku pasar dan para investor untuk berinvestasi kembali di negara kita.

Dulu saya pernah memprediksikan IHSG akan mencapai 6600 pada akhir Desember 2019, tetapi kondisi baik internal maupun eksternal nampaknya membuat sulit target IHSG bisa tercapai diangka tersebut.
Namun setidaknya saya masih optimis kalau IHSG akan bisa mencapai minimal 6350.

Namanya juga pendapat tentu boleh-boleh saja mari kita buktikan apakah istilah yang populer Sell on May and go away masih ampuh.

Salam
Hari Prabowo

aldi

Capital Market Enthusiast

Add comment