LP3M INVESTA

Menakar Prospek Surya Semesta Internusa, Tbk

Sahabat investor,

Pada tahun 2017 perusahaan ini memperoleh one gain off yang besar, dari divestasi Cipali. Itu sebabnya membanndingkan laba 2017 dan 2018 akan kelihatan sangat timpang. Saya semula memperkirakan emiten akan menderita rugi pada 2018. Syukur masih mencatat laba.

Pada 1H19 bottom line SSIA merah. Rugi Rp 35 miliar. Saya memperkirakan pada 2H perusahaan akan mampu menutup kerugian. Ada penjualan lahan 15,6 ha beberapa waktu lalu.

Ada obligasi jatuh tempo sebesar Rp 510 miliar September ini. Tapi dengan posisi kas Rp 1,1 triliun, saya kira tidak akan persoalan arus kas. Komitmen pinjaman dari IFC sebesar $ 100 juta, memberi ruang cukup bagi emiten untuk melakukan ekspansi.

Sejatinya, emiten yang bergerak di bidang kawasan industri, jasa konstruksi, properti komersial dan hotel, dengan 35 anak perusahaan, ini, punya banyak kelebihan. Sederet panjang sumber recurring income. Memiliki 9 hotel, Grand Melia Jakarta, Melia Bali, Banyan Tree Bali dan enam Batiqa. Namun occupancy rate rata-rata masih berada di bawah 50%. Masih ada beberapa gedung kantor. Dan yang gres adalah pergudangan di Karawang, bekerjasama dengan Mitsui Jepang.

Pendapatan emiten terbesar 2018, memang masih berasal dari jasa konstruksi. NRCA, sebagai anak perusahaan memainkan peran besar. Namun ke depan saya melihat potensi besar di segmen kawasan industry. Giliran Suryacipta Swadaya, anak perusahaan di kawasan industry, berpeluang menjadi motor penggerak

Land bank di Karawang memang makin menyusut. Subang City of Industry akan tampil sebagai pengganti. Di kawasan seluas 11.000 ha itu, emiten berencana mengkavling 2.000 ha. Sudah terkumpul 1.100 ha hingga Juni lalu

Subang, menurut saya, punya sederet peluang:

  • [1] tol Subang – Patimban, dengan akses ke Cipali,
  • [2] Pelabuhan Patimban yang sedang dikembangkan,
  • [3] Bandara internasional Kertajati,
  • [4] Pelabuhan Cirebon,
  • [5] lahan yang masih relative murah dan
  • [6] tenaga kerja yang juga masih relative murah.

Kehadiran tiga BUMN yang memanfaatkan lahan PTPN VIII, membuat prospek Subang semakin semarak. SSIA berada di posisi leading

Persoalan utama terletak pada jadwal proyek yang sering tertunda. Perubahan akses Cipali dari km 98 ke 102, saja, mengakibatkan pembangunan tol tertunda setahun. Pelabuhan Patimban, yang semula dijadualkan berfungsi tahun ini, baru jadi tahun depan. Itu pun baru tahap 1 yang diperuntukkan bagi cars terminal

Yang punya horizon investasi minimal sampai 2021, SSIA layak dipertimbangkan.

Hasan Zein Mahmud (Instruktur LP3M INVESTA)

aldi

Capital Market Enthusiast

Add comment