LP3M INVESTA
WhatsApp grup dan rasionalitas kita

WhatsApp grup dan rasionalitas kita

Berapa banyak grup saham yang anda miliki ? satu, dua, atau mungkin lebih dari sepuluh ?
Akhir-akhir ini bertebaran komunitas saham baik melalui aplikasi telegram ataupun melalui aplikasi WhatsApp, untuk aplikasi WhatsApp member grup yang bisa dibuat adalah sekitar dua ratusan mamber, sedangkan melalui grup telegram bisa ribuan member, bahkan mencapai sepuluh ribu member.

Member Aplikasi tersebut ada yang gratis atau berbayar, tetapi kalau penulis amati grup yang pada mulanya gratis, berbaik hati dengan ‘image’ dermawan, kemudian akhirnyapun menjadi berbayar, bermanfaatkah grup komunitas tersebut ? mari kita membahasnya.

Pada salah satu sebuah member yang berbayar, yang cukup masif melakukan iklan grupnya di salah satu situs berita saham di internet, penulis mengamati beberapa kali isi dari stock rekomendasinya, isinya kurang lebih begini, telah direkomendasikan pada tanggal sekian, pada hari ini return saham tersebut telah naik +25%, hold atau relasikasikan profit anda, kelihatannya cukup rasional, tapi setalah penulis pelajari stock-pick yang diberikan jumlahnya puluhan saham, bahkan mungkin mencapai ratusan saham, karena terus menerus disampaikan pada jam-jam tertentu, mestinya anda harusnya berfikir ini adalah azas probalilitas, dengan stockpick yang banyak tentu saja kemungkinan adanya saham yang naik menjadi lebih besar, secara rasional pola ini tidak mungkin diterapkan dalam portofolio anda, pertanyaanya nanti berapa nanti dana yang dibutuhkan untuk membeli begitu banyak jenis saham? bagaimana cara kita memaintain saham tersebut, kalau 5 saja sudah repot?

Pertanyaan mendasar, lebih baik anda mempunyai 10 saham dengan return 2% masing masing saham, atau anda hanya mempunyai 2 saham dengan masing masing return 2% ?, orang yang berfikir rasional tentunya akan memilih pilihan kedua, karena tidak perlu repot mengurusnya, bukankah begitu?

Pertanyaan ketiga, bila seseorang sudah hebat trading saham, buat apa ia membuat member sampai beriklan di situs terkenal, dan sampai merekrut sejumlah karyawan ? tinggal trading saja toh? logikanya sekarang….. jangan-jangan tutor tersebut sudah tidak trading lagi, dan sekarang  penghasilannya hanya menjual rekomendasi saham, karena dari fee member yang  jumlahnya ribuan  sudah lebih dari cukup dan pasti (fix income) , buat apa lagi trading saham dengan berbagai resiko ?

Bila seorang trader mendapatkan informasi sejatinya tidak boleh disebar kemana mana, apalagi saham saham 2nd linear atau 3rd liniar yang berbau gorengan, karena semakin banyak investor yang membeli atau menjual saham tersebut akan mempengaruhi investasi trader tersebut, penulis sendiripun di grup investa hanya stay di satu grup, karena banyak grup akan mendistorsi hasil trading penulis, penulis sudah membuktikannya pada saham saham tertentu seperti beberapa kasus MLPL, saat penulis masih hold tenyata di grup sudah profit taking akibatnya harga turun karena terjadi panic selling, pada grup komunitaspun penulis tidak vulgar  memberikan target beli dan jual di harga tertentu, tetapi hanya memberikan kode kode tertentu berupa gambar teknikal, atau komentar tertentu.

Beberapa komunitas saham baik melalui telegram ataupun whatsApp pada akhirnya menawarkan jasa pelatihan, dengan sederet titel tutornya seperti Teknikal analis bersetifikat , atau telah menulis sejumlah buku yang dipajang di toko buku terkenal, agar orang yakin dan percaya,  menurut hemat penulis apalah artinya sederet titel, dan banyaknya buku yang ditulis, bila tutornya tidak berpengalaman trading di pasar saham, jenis sertifikat yang riil yang mestinya anda lihat dan buktikan adalah portofolio tutor tersebut, bukannya berapa banyak jenis sertifikat yang ia raih, karena anda kan ingin mendulang ilmu berinvestasi di lapanagan saham secara riil, bukan hanya ilmu yang ada dalam textbook belaka.

Sangat banyak terjadi di sekitar kita, seorang murid yang rangking satu di sekolahnya, setelah dia masuk ke sektor riil tidak berhasil dalam hidupnya, kebalikannya banyak yang berhasil di sektor rill namun sekolahnya tidak pintar, karena yang dipakai di dunia rill adalah EQ bukan hanya  IQ, perumpamaan ini berlaku juga di dunia saham.

Grup grup yang bertebaran di telegram dengan jumlah member yang banyak juga menjadikan over-flood  informasi, sangat sulit juga kita membaca opini membernya satu persatu, over-flood informasi lebih banyak sisi buruknya daripada baiknya, over-flood  akan menyebabkan anda goyah pada tujuan semula sehingga  melupakan tujuan awal, bergunakah semua member tersebut ? lebih bijak anda menseleksi grup grup saham yang berkualitas saja, dan menghapus grup grup saham yang tidak berkulitas, sisi baiknya smartphone anda akan lebih ringan menerima pesan,  bahkan dalam sebuah grup telegram ada yang membahas khusus saham BEKS saja,…Luar Biasa !!! sunggu tidak masuk akal sehat, karena sampai kini harga saham BEKS tidak berubah, tetap bercokol di klub gocap, kemudian apa saja aktifitas komunitas tersebut ?

Bijaksanalah menyaring informasi yang masuk, sehingga berguna bagi investasi saham anda, hasil investasi dalam portofolio anda  dipengaruhi  lingkungan  komunitas aplikasi online yang ada  di smartphone anda, baik WhatsApp ataupun telegram, karena lingkungan sangat mempengaruhi hasil investasi anda,  grup yang tidak berkulitas akan menyebabkan portofolio anda merah dan tak kunjung membaik, grup yang baik akan menyebabkan portofolio anda selalu menghijau, sehijau hamparan padi padi di sawah.


About writer
My name is Keneisha,  I am a stock market practitioner having experienced investing in the stock market since 2005

Hari Prabowo

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal INVESTA

Add comment